Sabtu, 08 Mei 2010

INFO BERITA DI MEDIA

INILAH.COM, Jakarta - PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) produsen dan pengolah udang yang terintegrasi secara vertikal kembali mendapatkan kepercayaan dari perbankan nasional untuk mengelola pinjaman kredit.

Penandatanganan kesepakatan ini dilaksanakan pada awal Mei 2010 di Jakarta. Kesepakatan ini merupakan lanjutan atas dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) dan fasilitas Kredit Investasi (KI) dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) (BNI) kepada plasma Aruna Wijaya Sakti (AWS) senilai Rp63 miliar dari total plafon fasilitas sebesar Rp170.4 miliar.

Dalam penandatanganan kesepakatan kredit tersebut, BNI diwakili oleh Siwi Peni sebagai Ketua Tim Divisi Usaha Kecil BNI Pusat. Kesepakatan lanjutan ini selain dapat meningkatkan modal kerja, juga merupakan bukti kepercayaan yang baik dari lembaga perbankan kepada CP Prima, mengingat BNI adalah salah satu bank terpercaya nasional yang selektif terhadap debitur.

Pinjaman KMK lanjutan ini akan digunakan Plasma AWS untuk memenuhi kebutuhan operasional budidaya, sedangkan pinjaman KI digunakan untuk pembelian peralatan dan perbaikan tambak. Rencananya pelaksanaan akad kredit akan dilakukan BNI dengan plasma AWS dalam waktu dekat melalui cabang BNI Bandar Lampung.

Dengan pencairan kredit ini, CP Prima berharap dapat lebih memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kehidupan plasma melalui budidaya hasil tambak udang. Selain itu juga berharap dapat berkontribusi terhadap pendapatan daerah serta peningkatan pendapatan ekspor non-migas nasional.

"Perseroan juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh perbankan lokal, khususnya kepada BNI atas kepercayaanan kerja sama yang baik selama ini," demikian penuturan manajemen CP Prima dalam keterangan pers yang diterima INILAH.COM, Rabu (12/5).

Sekedar catatan, sebelumnya pada Juli 2009 lalu, BNI telah menyetujui penyaluran fasilitas KMK dan atau KI kepada 1.21 plasma tambak udang dengan jumlah pembiayaan maksimum sebesar Rp 170.4 miliar. Perusahaan setuju untuk memberikan jaminan perusahaan fasilitas kredit yang diberikan oleh BNI kepada para petambak plasma.


Selasa, 11/05/2010 17:00:33 WIB

BNI beri kredit Rp63 miliar ke plasma CP Prima

Oleh: Wisnu Wijaya

JAKARTA (Bisnis.com): PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima), produsen dan pengolah udang yang terintegrasi secara vertikal, meraih fasilitas pinjaman berupa kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi senilai Rp63 miliar dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Dalam siaran pers yang diperoleh Bisnis.com sore ini disebutkan kredit investasi itu diberikan kepada plasma CP Prima, Aruna Wijaya Sakti (AWS). Kredit itu merupakan bagian dari total plafon Rp170,4 miliar.

Kesepakatan kredit itu selain dapat meningkatkan modal kerja, juga merupakan bukti kepercayaan yang baik dari lembaga perbankan kepada CP Prima, mengingat BNI adalah salah satu bank terpercaya nasional yang selektif terhadap debitur.

Fasilitas KMK akan digunakan plasma AWS untuk memenuhi kebutuhan operasional budidaya, sedangkan pinjaman kredit investasi digunakan untuk pembelian peralatan dan perbaikan tambak.

Menurut rencana, pelaksanaan akad kredit akan dilakukan BNI dengan plasma AWS dalam waktu dekat melalui cabang BNI Bandar Lampung.

Dengan pencairan kredit ini, CP Prima berharap dapat lebih memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kehidupan plasma melalui budidaya hasil tambak udang.

Selain itu juga berharap dapat berkontribusi terhadap pendapatan daerah serta peningkatan pendapatan ekspor non-migas nasional.

Pada Juli 2009, BNI telah menyetujui penyaluran fasilitas KMK dan atau KI kepada 1.21 plasma tambak udang dengan jumlah pembiayaan maksimum sebesar Rp170.4 miliar.

Perusahaan setuju untuk memberikan jaminan perusahaan fasilitas kredit yang diberikan oleh BNI kepada para petambak plasma. (wiw)


Date: 06 May 2010
Source: Investor Daily, 6 Mei 2010

BELUM PERLU INVESTOR BARU
Revitalisasi Tambak CP Prima Tetap Jalan

Oleh Julius Jera Rema


JAKARTA - PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) memastikan proses revitalisasi tambak udang di Lampung, eks Dipasena, berjalan baik, sekaligus tetap mendapat dukungan pembiayaan dari perbankan nasional.

Petani tambak plasma perseroan itu juga tetap komit menjalin kerja sama dengan CP Prima, meski sejumlah kendala teknis revitalisasi terus mengadang.

“Hingga kini kami belum membutuhkan investor baru dan semua proses revitalisasi masih berjalan baik. Dukungan perbankan tidak berubah,” kata Komisaris Utama CP Prima Hardian Purawimata Widjonarko di Jakarta, Rabu (5/4).

Kemarin, Hardian dan jajaran manajemen CP Prima menggelar jumpa pers bersama tiga unsur plasma, yakni PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), PT Central Pertiwi Bahari (CPB), dan PT Wahyuni Mandira (WM). Total luas ketiga plasma tambak tersebut mencapai 59 ribu hektare.

Saepudin, petani plasma dari AWS, menegaskan pihaknya justru membutuhkan bantuan pemerintah meringankan beban operasional tambak yang kian meningkat. Beban-beban itu mencakup biaya listrik, bahan bakar minyak, pupuk, dan PPN.

"Selama proses revitalisasi biaya-biaya ini tetap ada dan ditanggung plasma. Akan lebih baik kami mendapat subsidi dari pemerintah, selain karena CP Prima sebagai induk tidak bisa ditekan menanggung semua biaya, sekaligus kami butuh perlakuan yang adil," tegas Saepudin.

Hardian menjelaskan, revitalisasi yang kini sudah berhasil mencapai lima blok dan segera berlanjut ke blok-blok lainnya. Dia mengakui, perubahan musim yang kian ekstrem merupakan salah satu kendala yang berpotensi mengadang proses revitalisasi. Selain itu serangan virus IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus) menjadi penyebab lain yang mengganggu.

"Ada tambak yang sudah diperbaiki namun belum bisa ditabur benih (benur) karena cuaca yang tak pasti. Benur tidak bisa ditabur saat musim hujan. Ini kendala yang kami temui di lapangan," kata Hardian.


Ekonomi Biaya Tinggi
Yusuf Eko Saputro, wakil dari plasma PT Wahyuni Mandiri (WM), mengakui, revitalisasi yang melibatkan induk CP Prima dengan plasma tergolong dalam praktik ekonomi biaya tinggi (high costeconomic). Sebab, sebagai plasma pihaknya wajib membayar semua biaya operasional tambak sebagaimana ditetapkan induk CP Prima. Biaya BBM dan pupuk, misalnya, kata Eko, wajib dibayar sesuai biaya kategori industri. Padahal, petani plasma milik Eko harusnya masuk ke kategori usaha kecil dan menengah yang wajib menerima subsidi.

"Tujuannya bukan untuk meringankan CP Prima sebagai induk, tetapi meringankan plasma karena kami adalah end user," kata Yusuf Eko. Ekonomi biaya tinggi lainnya, kata Yusuf, adalah tidak tersedianya dukungan infrastruktur jalan ke kawasan plasma, sehingga mematikan jalur transportasi.

"Pembangunan infrastruktur jalan adalah tugas negara, kami pun butuh perlakuan yang adil," kata Yusuf Eko.

Hardian menambahkan, selain berharap pada dukungan pemerintah sejalan dengan harapan petani plasma, perseroan itu tetap mendapat pendanaan dari bank. Beberapa bank swasta sedang mengkaji penambahan pagu kredit ke CP Prima.

Oleh karena itu, kata Hardian, perseroan belum perlu mengalihkan perusahaan pada pihak ketiga. Dia juga menampik kabar yang menyebut adanya investor dari Malaysia dan lokal. “Tidak benar bahwa ada investor dari Malaysia,” tegas Hardian.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad belum lama ini menyatakan telah siap dua investor baru asal Malaysia dan dari dalam negeri. Kedua investor itu memiliki uang tunai (fresh money) guna mengakuisisi tambak eks Dipasena itu.

“Nama perusahaan yang sudah siap itu belum dapat saya sebutkan. Yang jelas, batas waktu yang diberikan akan habis pada Mei ini. Kami tunggu laporan dari perusahaan untuk hasilnya," kata Fadel belum lama ini.


Adang Virus
Sementara itu, Wakil Dirut CP Prima Mahar A Sembiring mengakui serangan virus berjenis IMNV mengganggu keberlangsungan produksi udang perseroan. Namun, perusahaan itu tetap berupaya mengadang penyebaran virus dengan sejumlah teknologi yang tersedia.

"Yang sederhana, misalnya, dengan melakukan steril terhadap induk udang, hingga penerapan teknologi yang lebih tinggi," tegas Mahar.

Namun demikian dia mengakui kesulitan jika penyebaran virus IMNV secara alami, misalnya, melalui burung.

"Jika burung makan udang terkena virus dan kemudian terbang lantas hinggap di beberapa tambak, otomatis virus tidak bisa diadang," kata Mahar.

05/05/2010 - 16:10

CPRO Mulai Jadwalkan Revitalisasi Tambak AWS
Aris

INILAH.COM, Jakarta - PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) menegaskan sudah ada penjadwalan untuk merevitalisasi petambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (AWS).
Hal ini disampaikan Mahar A Sembiring, Wakil Direktur Utama CP Prima dalam acara jumpa pers bersama PT Central Proteinaprima Tbk & petani plasma di Jakarta, Rabu (5/5). "Terhadap tambak-tambak tersebut sudah ada penjadwalan. Sejak bulan April sudah berjalan, kemungkinan sejak bulan Mei akan kembali normal melakukan penebaran tambak," ujarnya.
Menurutnya, dalam budidaya udang CPRO memang memiliki target produksi. "Tapi kita tidak bisa memberikan kepastian berapa targetnya. Tapi kita punya schedule penebaran tambak udang. Kalau ada pemaksaan tebar akan berakibat kurang baik. Jadi lebih baik menjaga pembudidayaan daripada memaksakan yang akan merugikan," tukasnya.
Akhir-akhir ini tersiar bahwa ada permasalahan dalam hubungan kerjasama kemitraan antara Perusahaan Inti dan Petambak Plasma yang tergabung dalam PT CP Prima.
Keterlambatan pelaksanaan rencana revitalisasi awal di petambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) disebabkan berbagai kendala dan para petambak plasma dapat memahami dan menerima keterlambatan tersebut.
Dalam hal ini, perwakilan plasma menyayangkan pemberitaan Menteri DKP tentang adanya investor baru, mengingat hubungan investor dengan plasma bukan sekadar jual beli asset, melainkan transaksi kepercayaan yang membutuhkan pembinaan.
Terkait virus, CPRO sudah melakukan berbagai upaya termasuk penjelasan metode baru dengan menggunakan anti virus. "Memang ada tambak yang terkena virus, tapi sudah bisa diatasi. Kami merasa dengan berbagai macam perubahan pola pembudidayaan dan penanganannya. Tapi memelihara udang ini butuh waktu berbulan-bulan, jadi proses perbaikan itu butuh waktu," tukasnya.
Mengenai produksi, tentunya ada peningkatan produksi. "Mungkin akhir tahun ini kita mengharapkan banyak tambak udang yang beroperasi. Kalau melihat dari perkembangannya kita bisa sesuaikan dengan jadwal yang ada," katanya.
Pendanaannya itu akan berasal dari pinjaman bank dan kas internal perusahaan. [cms]

Rabu, 05/05/2010 17:51:46 WIB
CP Prima tak akan alihkan tambak eks Dipasena
Oleh: Diena Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): Manajemen PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) bersikukuh untuk tetap melakukan revitalisasi tambak Aruna Wijaya Sakti (eks Dipasena) di Lampung dan belum merencanakan untuk mengalihkan ke investor lain.

"Apakah ada jaminan ketika dialihkan ke investor baru kondisinya akan menjadi bagus?" kata Komisaris Utama CP Prima Hardian Purawimata Widjonarko di Jakarta petang ini.

Dia menyatakan yang sedang dilakukan perusahaan adalah berupaya memenuhi jadwal revitalisasi sesuai dengan perjanjian. Dia mengatakan yang dihadapi saat ini bukan semata-mata masalah jual beli aset, tapi untuk perusahaan yang penting adalah kepercayaan.

Dia mengatakan masalah pendanaan tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Hardian menyatakan opsi mengenai investor baru dari Malaysia dan dalam negeri berasal dari pemerintah. "Kami tidak pernah menawarkan tentang adanya investor baru. Itu bukan dari kami," ujarnya.

Pada kesempatan itu, dia menyatakan, perusahaan pada saat bertemu dengan Menteri Kelautan dan Perikanan beberapa waktu lalu tidak pernah ada pernyataan pemberian batas waktu revitaliasi yang akan habis pada pertengahan Mei ini.

Komut mengungkapkan pada pertemuan dengan Menteri KP itu dilakukan karena manajemen ingin memberikan penjelasan yang benar mengenai kondisi di tambak eks Dipasena tersebut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad belum lama ini menyatakan telah siap dua investor baru asal Malaysia dan dari dalam negeri yang sudah memiliki fresh money yang akan digunakan untuk mengakuisisi tambak eks Dipasena itu.

"Nama perusahaan yang sudah siap itu belum dapat saya sebutkan. Yang jelas batas waktu yang diberikan akan habis pada Mei ini. Kami tunggu laporan dari perusahaan untuk hasilnya," katanya.

Dia mengatakan tiga opsi yang ditawarkan pemerintah kepada CP Prima, pertama, meneruskan revitalisasi dengan dana sendiri. Kedua, mencari sumber pembiayaan lain apabila dana perusahaan tak mencukupi. Ketiga, menjual aset tambak udang plasma PT AWS kepada perusahaan lain jika perusahaan tidak dapat meneruskan revitalisasi.

Langkah yang diambil Menteri ini bersumber dari laporan yang menyatakan bahwa CP Prima tidak melakukan langkah revitalisasi dengan benar. Dia mengatakan dari revitalisasi direncanakan di 16 blok tambak plasma di areal 16.250 hektare itu, sampai saat ini baru lima blok yang direvitalisasi.(msb)



CP Prima Tak Berniat Jual Aset
Kamis, 6 Mei 2010 | 04:14 WIB
Jakarta, Kompas - PT Central Proteinaprima Tbk tidak berniat menjual aset perusahaan kepada pihak lain. Bahkan, PT Central Proteinaprima bertekad melanjutkan program revitalisasi tambak plasma sesuai jadwal.
Menurut Komisaris Utama PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) Hardian Widjonarko di Jakarta, Rabu (5/5), penjualan aset perusahaan melibatkan nasib ribuan petambak udang plasma yang selama ini bermitra dengan perusahaan (inti-plasma).
”Apa ada jaminan kepercayaan plasma-inti akan terbina baik jika perusahaan inti berganti,” ujar Hardian.
Opsi penjualan aset CP Prima ke perusahaan lain mencuat setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mencatat indikasi kinerja perusahaan yang bermitra dengan ribuan petambak udang plasma itu terus menurun. Fadel menilai CP Prima tidak serius menangani usaha tambak udang kendati memiliki infrastruktur yang memadai untuk peningkatan produksi.
Wakil Direktur Utama PT Central Proteinaprima Tbk Mahar Sembiring mengakui, kinerja perusahaan tahun 2009 sempat menurun akibat serangan penyakit virus udang.
Penyebaran virus di antaranya terjadi di tambak udang milik anak perusahaan, PT Central Pertiwi Bahari (CPB), yang merupakan penyumbang produksi terbesar perusahaan dengan 2.800 petambak plasma.
Selain itu, ada kendala musim hujan, November 2009-April 2010, yang mengakibatkan penundaan dan pengurangan tebar benur (benih udang) di sejumlah tambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) yang membawahi 7.226 petambak plasma dan PT Wahyuni Mandira, anak perusahaan CP Prima, 2.260 petambak.
Menurut Suparmin, Pembina Unit Kerja Musyawarah Kemitraan Plasma Wahyuni Mandira di Lampung, kapasitas tebar benur turun 25.000-50.000 ekor per tambak dalam 3-4 bulan terakhir. Pada kondisi normal, penebaran benur 225.000-250.000 ekor per tambak.
Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu PT AWS Nafian Faiz mengemukakan, tertundanya penebaran benur akan menurunkan kinerja produksi. Setiap tahun, petambak seharusnya mampu mengejar produksi sebanyak dua kali.
Namun, Mahar mengatakan, saat ini sudah terjadi tren perbaikan kondisi tambak udang seiring berkurangnya serangan virus dan perbaikan cuaca.
Oleh karena itu, tahun ini diperkirakan produksi membaik dan revitalisasi tambak berjalan sesuai jadwal. Namun, Mahar tidak bersedia menyebutkan target produksi udang tahun ini.
Petambak PT AWS, Saepudin, yang hadir dalam jumpa pers mengemukakan, ia berharap perusahaan tetap melaksanakan revitalisasi sesuai perjanjian kerja sama. Petambak plasma juga meminta pemerintah membangun sarana fisik berupa jalan akses ke lokasi tambak, subsidi tarif listrik, dan subsidi bahan bakar minyak. Saat ini petambak plasma membeli BBM dari perusahaan sehingga terbebani tarif BBM industri.
Pasca-akuisisi aset Dipasena Citra Darmaja tahun 2007, CP Prima berkomitmen memperbaiki sarana dan prasarana tambak agar petambak plasma bisa segera membudidayakan udang dan produksi meningkat.
Revitalisasi tambak plasma PT AWS direncanakan di 16 blok tambak di delapan desa di areal 16.250 hektar. Namun, hingga kini baru 5 dari 16 blok yang direvitalisasi. Revitalisasi tambak mundur dari jadwal semula, Agustus 2009, menjadi September 2011. (LKT)



Revitalisasi Tambak, CP Prima Tak Jual Aset
Perseroan masih memiliki pinjaman dari perbankan lokal untuk revitalisasi tambak.
Rabu, 5 Mei 2010, 17:13 WIB
Arinto Tri Wibowo, Purborini



VIVAnews - PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) tidak merencanakan menjual aset atau menambah investor baru guna pendanaan revitalisasi tambak.

Menurut Komisaris Utama CP Prima Hardian P Widjanarko, pilihan menjual aset tidak pernah menjadi pertimbangan perseroan.

Dia juga mengatakan, ketika bertemu dengan menteri kelautan dan perikanan, opsi tersebut tidak pernah muncul. "Waktu bertemu dengan menteri menyampaikan keadaan kami, opsi menjual aset tidak pernah muncul," ujar Hardian dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu 5 Mei 2010.

Wakil Direktur Utama CP Prima Mahar A Sembiring juga membantah adanya investor baru dari Indonesia atau Malaysia yang akan masuk ke perseroan guna menambah modal.

"Pemberitaan itu bukan dari manajemen. Kami tidak pernah tahu, tidak pernah kenal sehingga tidak bisa berkomentar," ujar dia.

Mengenai biaya revitalisasi tambak, Mahar mengatakan pihaknya masih memiliki pinjaman dari perbankan lokal. "Mengenai penambahan plafon kredit baru, pihak perbankan masih me-review," tuturnya.

Namun, untuk sementara, dia melanjutkan, perseroan akan menggunakan dana internal guna menutupi kebutuhan.

Perseroan mengaku, revitalisasi tambak plasma mengalami keterlambatan. "Kami harus melakukan reschedulling karena tambak ada yang terkena virus, sehingga ini mengganggu produktivitas," kata Mahar.
Selain masalah virus, musim penghujan juga menjadi penyebab penundaan penebaran benur pada 1.000 tambak milik perseroan. "Kalau kondisi tidak memungkinkan, kami tidak paksakan," kata dia.
Hingga saat ini, baru lima blok dari 16 blok yang akan direvitalisasi. "Mei ini semua sudah berjalan normal," ujar dia.

Mengenai adanya potensi tertundanya panen akibat keterlambatan revitalisasi itu, Mahar enggan menjelaskan. "Produksi masih tetap berjalan, saya yakin ada peningkatan, tapi tidak bisa membukanya," kata dia. (hs)



05/05/2010 - 18:23
CP Prima Masih Lanjutkan Revitalisasi Tambak
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta - PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) masih melanjutkan revitalisasi tambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) dan tambak PT Centralpertiwi Bahari (CPB) dan PT Wachyuni Mandira (WM).
Menurut Wakil Direktur Utama CPRO Mahar Sembiring, penebaran benur pada tambak PT AWS memang belum direalisasikan karena cuaca pada Desember dan Januari masuk musim penghujan dan cukup tinggi. Sedangkan
revitalisasi tambak di PT Wachyuni Mandira masih dalam kondisi belum memungkinkan sehingga ditunda dulu.
"Penundaan itu direscheduling. Masalah budidaya ada supply chain dan kami sudah menyiapkan jadwal untuk menebar benur untuk WAS," ujar Mahar pada konfrensi pers PT Central Proteinaprima pada Rabu (5/5).
Lebih lanjut ia mengatakan, jadwal tebar benur tetap dilakukan tapi jumlah tambak dikurangi. Saat ini sudah 1.000 tambak yang sudah disebar. Perseroan juga diharapkan menyelesaikan 11 blok yang direvitalisasi
dan diharapkan selesai September 2011. "Untuk revitalisasi diusahakan dari dana internal perusahaan," ujar Mahar.
Selain itu, perseroan masih melakukan upaya untuk mengatasi wabah virus INVV di tambak PT Centralpertiwi Bahari dan PT Wachyuni Mandira. "Mengatasi wabah tersebut berbagai upaya dilakukan lewat bio treatment dan memang sebelumnya produksi di PT CBP agak menurun," kata Mahar.
Terkait pembayaran utang perseroan, Mahar menuturkan, perseroan masih dalam posisi standstill agreement dengan pemegang obligasi. Pihaknya masih terus membicarakan restrukrisasi utang tersebut dengan obligor.
"Standstill agreement sampai dengan tercapainya kesepakatan dengan bondholder belum ada informasi yang bisa disampaikan," tambah Mahar. [san/cms]



05/05/2010 - 16:10
CPRO Mulai Jadwalkan Revitalisasi Tambak AWS
Aris
INILAH.COM, Jakarta - PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) menegaskan sudah ada penjadwalan untuk merevitalisasi petambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (AWS).
Hal ini disampaikan Mahar A Sembiring, Wakil Direktur Utama CP Prima dalam acara jumpa pers bersama PT Central Proteinaprima Tbk & petani plasma di Jakarta, Rabu (5/5). "Terhadap tambak-tambak tersebut sudah ada penjadwalan. Sejak bulan April sudah berjalan, kemungkinan sejak bulan Mei akan kembali normal melakukan penebaran tambak," ujarnya.
Menurutnya, dalam budidaya udang CPRO memang memiliki target produksi. "Tapi kita tidak bisa memberikan kepastian berapa targetnya. Tapi kita punya schedule penebaran tambak udang. Kalau ada pemaksaan tebar akan berakibat kurang baik. Jadi lebih baik menjaga pembudidayaan daripada memaksakan yang akan merugikan," tukasnya.
Akhir-akhir ini tersiar bahwa ada permasalahan dalam hubungan kerjasama kemitraan antara Perusahaan Inti dan Petambak Plasma yang tergabung dalam PT CP Prima.
Keterlambatan pelaksanaan rencana revitalisasi awal di petambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) disebabkan berbagai kendala dan para petambak plasma dapat memahami dan menerima keterlambatan tersebut.
Dalam hal ini, perwakilan plasma menyayangkan pemberitaan Menteri DKP tentang adanya investor baru, mengingat hubungan investor dengan plasma bukan sekadar jual beli asset, melainkan transaksi kepercayaan yang membutuhkan pembinaan.
Terkait virus, CPRO sudah melakukan berbagai upaya termasuk penjelasan metode baru dengan menggunakan anti virus. "Memang ada tambak yang terkena virus, tapi sudah bisa diatasi. Kami merasa dengan berbagai macam perubahan pola pembudidayaan dan penanganannya. Tapi memelihara udang ini butuh waktu berbulan-bulan, jadi proses perbaikan itu butuh waktu," tukasnya.
Mengenai produksi, tentunya ada peningkatan produksi. "Mungkin akhir tahun ini kita mengharapkan banyak tambak udang yang beroperasi. Kalau melihat dari perkembangannya kita bisa sesuaikan dengan jadwal yang ada," katanya.
Pendanaannya itu akan berasal dari pinjaman bank dan kas internal perusahaan. [cms]


Kamis, 06 Mei 2010 | 08:39
Petambak Maklumi Keterlambatan Revitalisasi Tambak Dipasena

JAKARTA Kontan online. Beberapa perwakilan dari petani plasma PT Central Pertiwi Bahari, PT Wachyuni Mandira dan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) membantah adanya kegagalan revitalisasi.

Keterlambatan pelaksanaan rencana revitalisasi awal di AWS karena berbagai kendala dan para petambak plasma bisa memahami dan menerima keterlambatan tersebut.

"Apalagi sudah ada kesepakatan baru mengenai jadwal dan mekanisme revitalisasi untuk blok-blok selanjutnya," kata Saefudin, perwakilan plasma AWS.

Tidak hanya itu, para perwakilan plasma itu juga minta supaya adanya bantuan dari pemerintah seperti pembangunan infrastruktur jalan, memberikan subsidi pembelian bahan bakar untuk pembangkit listrik yang dikelola oleh perusahaan inti, meninjau kembali PPN terhadap bahan baku perikanan dan memberikan harga pupuk yang bersubsidi.
Fitri Nur Arifeni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar